Hujan bulan November

Hujan bulan November
Oleh : penadv


Bagiku, gelar sarjana setelah lulus dari universitas ternama adalah suatu hal yang membanggakan. Memakai jubah hitam serta topi toga saat diwisuda, membentuk formasi lingkaran kemudian saling melempar toga dengan teman-teman satu angkatan, serta tersenyum cerah saat difoto dengan berbagai bunga serta bingkisan cokelat dari orang tersayang. Sebetulnya bukan cuma bagiku. Tapi untuk semua orang, hal itu sangat amat membanggakan. 
Aku memandang sebuah brosur ditanganku. Menampilkan sebuah bangunan besar yang dengan gagahnya berdiri, membuat mata yang melihatnya ingin cepat-cepat masuk sana dengan cara apapun. Bangunan itu adalah salah satu perguruan tinggi di kota yang sangat ternama. Menduduki peringkat kedua perguruan tinggi terbaik di indonesia. Universitas Gadjah Mada. Ah, namanya saja sudah menunjukkan bagaimana “wow” nya kampus ini. 
Bolehkah aku menghayal untuk satu malam saja? aku tidak memiliki kemampuan untuk bersaing dan masuk ke kampus itu. Baik kemampuan akademis maupun ekonomi. Aku tidak pintar. Aku hanya murid yang biasa-biasa saja di sekolah. aku juga tidak sekaya teman-temanku. Singkatnya, aku hanya orang biasa. Biasa dalam hal apapun.
Tapi aku punya satu hal. Satu hal yang menurutku besar dan mampu mengalahkan dua hal yang menjadi ketakutanku seperti yang ku katakan sebelumnya. Satu hal yang kumiliki sedari kecil. Tekad yang kuat. Ya, tekad. Aku menyadari hal itu semenjak aku kelas dua menengah pertama. Saat itu aku berusaha mengejar ketertinggalanku pada pelajaran matematika karena aku sakit satu minggu sehingga PR yang guru berikan menumpuk dan batas waktu yang ditentukan sudah habis, sedangkan guruku sangat mengharuskan kedisiplinan dan tak menolerir alasan apapun termasuk sakit satu mingguku.
Pada saat itu, aku benar-benar frustasi dan tak mau nilai KKM matematika-ku merendah. Jadi secepatnya aku menyelesaikan tugas itu mati-matian –karena menyelesaikan pr matematika itu tidaklah semudah yang dibayangkan– meski batas waktunya sudah habis. Namun seperti yang kubilang tadi, aku bertekad sungguh-sungguh dan memohon di depan guru-guru dengan wajah memelas yang saat ini juga tidak bisa kubayangkan, dan akhirnya selesai. Pekerjaan rumahku diterima meski harus mendapat khotbah panjang dari guru matematikaku tersebut.
Saat ini, hal itu terjadi lagi. Namun yang kuperjuangkan bukan lagi hanya sekedar PR yang telat dikumpulkan. Aku benar-benar ingin meneruskan belajarku ke perguruan tinggi. Meski kepercayaan diriku tidak sampai pada perguruan tinggi dengan akreditasi tinggi yang saat ini brosurnya sedang kutatap sedemikian minat.
Hingga pada akhirnya, tekadku mulai luntur oleh satu percakapanku bersama Ibu pada malam itu.
“Ra, besok kan minggu. bilang pada Bu ningsih, stok kuenya ibu tambah dari Senin, ya.” Ibu berujar sambil memasukkan kue kering dalam plastik kecil. 
Malam itu, aku yang ikut membantu mendadak terdiam. Ingat bahwa besok adalah hari yang tidak boleh aku lewatkan sama sekali. Aku menatap ibu ragu kemudian berdehem singkat.
“Bu, besok aku harus ke sekolah. ada pengarahan dari guru konselling untuk melanjutkan ke perguruan tinggi. Aku harus... datang.” Aku memelankan suara ketika mengatakan kata ‘datang’, lantas memandang raut wajah ibu yang sedikit terkejut.
“Kamu mau kuliah?”
Aku mengangguk dengan yakin.
Ibu menghela napas, kemudian meletakkan bungkus kue dan menatapku.
“Ra, kamu tahu biaya kuliah itu berapa?” Ibu bertanya dengan suara sedikit bergetar. Aku diam tak sanggup menjawab.
“Kita bisa makan sehari dua kali saja itu sudah sangat bersyukur dengan pekerjaan Ibu yang seperti ini, Rara.”
“Bu, masih ada beasiswa.”
“Ada tapi belum tentu kamu bisa dapat itu. Seandainya dapat pun, kamu pikir cukup untuk biaya yang lainnya? Ra, sekolah kamu saat ini saja yang gratis, masih ada saja bahkan banyak pengeluarannya.”
Aku tidak memungkiri bahwa itu benar. Dan aku juga tidak memungkiri bahwa air mataku yang sejak tadi kutahan kini luruh di depan Ibu.
“Ibu bukannya tidak senang kamu kuliah. Tapi ibu lebih senang dan bersyukur jika empat tahun yang akan kita lewati kedepan berjalan baik tanpa ada hutang di mana-mana. Ibu lebih memilih hal itu karena lebih pasti. Sedangkan kuliah, belum tentu kamu dapat kerja sesuai bidang yang kamu ambil, Ra. Sia-sia empat tahunmu serta biayanya jika kamu kuliah tapi tidak dapat pekerjaan yang sesuai.”
“Ibu bukan orang tua mampu seperti teman-temanmu. Ibu hanya penjual kue kering yang mendapat uang dua puluh ribu saja setiap harinya sangat susah, Ra. Apalagi kedua adikmu juga butuh biaya untuk sekolah.”
“Tapi Bu, bagaimana dengan cita-cita Rara? Bukannya Ibu yang dulu mengajari Rara bahwa tiap orang harus punya  cita-cita tinggi? Apa Ibu lupa?”
Ibu memalingkan wajah sambil meneruskan pekerjaannya. Nafas Ibu naik turun bersamaan dengan wajahnya yang terlihat menahan marah.
“Itu dulu. sebelum Ayahmu pergi dan membawa semua uang Ibu.”
“Lalu apa itu salahku?”
“Tidak, Ra. Itu bukan salahmu. Hanya Ibu yang tidak mampu. ‘Tidak’, bukan ‘kurang’.” Ibu berdiri setelah menyelesaikan pekerjaannya.
“Lupakan kuliah. Cari pekerjaan setelah lulus sekolah.”
Lantas Ibu beranjak dan berjalan ke arah dapur, kemudian menghilang dibalik gorden yang memisahkan antara ruang tengah tempatku berada dengan dapur.
Aku mendesah berat mengingat kejadian itu. Sudah tiga hari berlalu dan ibu masih belum bicara padaku. Aku merasa sedikit bersalah telah mengutarakan kinginanku itu pada ibu yang jelas-jelas keadaannya sedang tidak baik. Tapi memang kapan sih keadaan kami membaik sejak kejadian Ayah yang membawa kabur uang Ibu? Aku tidak menyalahkan takdir tentang hal itu. Hanya saja ini benar-benar di luar kendali.
Aku menaruh kembali brosur berwarna biru tua itu ke dalam laci meja belajarku, kemudian menyatukan kedua lengan di meja dan menumpukan dahiku di atasnya. Aku ingin menangis kencang saat ini. Benar-benar berharap keajaiban akan datang seperti di tokoh-tokoh novel yang sedang berada dalam keputusasaan.
Benar, aku putus asa. Aku sudah tidak bisa memperjuangkan tekadku seperti dulu. aku tidak mungkin memaksakan keadaan kami sekarang. Ibu sudah sangat kesulitan membiayai aku dan kedua adikku, yang tahun depan adik pertamaku akan masuk sekolah menengah atas dan juga butuh biaya banyak. Tak seharusnya aku egois dan mementingkan keinginanku sendiri demi berkuliah di tempat jauh dan meninggalkan keluargaku yang benar-benar membutuhkanku sebagai anak pertama.
Aku mengangkat kepala dan pandanganku teralihkan pada selembar foto yang terselip di antara halaman buku yang terbuka dan belum kututup kembali setelah membacanya tadi. Aku menatap sayu foto itu. Lima orang yang sedang tersenyum bahagia seolah-olah tak pernah ada masalah. Ibu, aku, adikku yang pertama, adikku yang kedua, dan Ayah. Air mataku kembali lolos saat melihat wajah ayah yang menyenangkan. Betapa aku merindukan ayah yang selalu tidak pernah lupa untuk membacakanku dongeng pengantar tidur. Aku masih tidak menyangka mengapa ayah melakukan hal sekejam itu pada kami. Yang kutau bahwa Ayah adalah orang hebat yang paling kusayangi. Yang paling tidak terima saat teman-teman mengejekku, yang selalu membelaku ketika aku diomeli Ibu, dan yang paling menyayangiku dari siapapun. Aku tidak bisa membenci Ayah karena memang aku tidak pernah bisa membencinya. Aku merindukannya. Seperti Bumi yang merindukan Hujan pada bulan November.




Selesai pada : Desember, 2019


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Desember dan siang itu